Banyuasin,Expose – Seiring naiknya harga BBM non subsidi sebagaimana ketentuan pemerintah pusat seperti bahan bakar minyak jenis Pertamax,Turbo dan Solar (non subsidi), harga pertalite disejumlah pelosok wilayah Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan pun saat ini terpantau ikut melambung cukup signifikan.
Menurut berbagai sumber, pasca kenaikan harga BBM non subsidi dimaksud resmi diberlakukan, kelangkaan Pertalite dan bahan bakar minyak jenis Solar bersubsidi spontanitas terjadi di beberapa daerah.
Menurut Fr-(47) sampai dengan saat ini harga Pertalite di SPBU kota Palembang masih di angka Rp, 10,000 (sepuluh ribu rupiah) perliternya, sedangmenurutnya eceran paling rendah di angka Rp, 15,000 (lima belas ribu rupiah) perliter di lingkup kecamatan Air Salek saat menurutnya ialah BBM tak resmi alias barang selundupan, dirinya mensinyalir Pertalite eceran area jalur transmigrasi maupun pelosok perairan Banyuasin hasil dari pertambangan liar luar daerah, (9/7/2026)
Melalui investigasi sebelumnya, seorang pengecer BBM di desa Upang Air Salek “Herman, menyebutkan bahwa kenaikan harga Pertalite di SPBU terapung 1 Ilir Palembang tidak begitu signifikan dibandingkan dengan BBM jenis Pertamax dan Solar, menurut dia harga Pertalite eceran Rp, 15,000 perliter untuk area pelosok sudah termasuk harga jual yang standar.
Kendati demikian, ditemukan harga eceran per satu liter BBM jenis Pertalite Rp, 18,000.Pertamax Rp, 20,000 dan Turbo di angka Rp, 25,000. di desa Bintaran, kecamatan yang sama, hal ini dikonfirmasi langsung oleh pengecer setempat yang tidak mau menyebutkan identitasnya. Sementara itu sekertaris camat Muara Padang “Azwar Wafiq juga membenarkan fenomena melambungnya harga Pertalite saat ini, ia menuturkan harga BBM di wilayah kecamatan ini terkadang bahkan dijual pengecer diangka Rp 30,000 per liter.
Hasil penelusuran yang dilakukan beberapa pekan pasca ketentuan kenaikan harga BBM tersebut, memang terdapat pengakuan kelangkaan Pertalite dari sejumlah pengecer, sedangkan BBM jenis Pertamax seolah-olah membludak dengan seketika sehingga menimbulkan kontroversi penilaian pengguna kendaraan bermotor.
Banyak yang menyoroti adanya dugaan oknum pelaku praktek penimbunan BBM jenis Pertalite, kemudian disinyalir disalahgunakan memanipulasi sedemikian rupa agar terlihat menjadi Pertamax ataupun jenis Turbo untuk meraup keuntungan berlipat ganda.
Hingga penerbitan pemberitaan ini, keanehan masih terlihat jelas dimana BBM jenis Pertalite dengan harga Rp 15,000 rata-rata hanya bisa didapatkan melalui pengecer dengan botol bekas air mineral saja, sementara itu pengecer yang menggunakan pom mini hampir semua berisikan Pertamax seolah-olah memang terjadi kelangkaan Pertalite, kalaupun ada pom mini yang menjual Pertalite harga Rp,18,000 ialah angka yang paling murah untuk saat ini.
Masih merupakan misteri yang belum terungkap akan fenomenal ini, apakah pasca kenaikan harga BBM non subsidi dimaksud Pertalite memang benar-benar langka dan mungkin BBM selundupan yang beredar bebas sehingga hanya pengecer dengan botol air mineral saja yang dapat menjualnya, atau justru adanya ulah oknum penimbun yang bermain.
. Pewarta: Junaidi
Seluruh tulisan yang dimuat di Expose.web.id merupakan hasil karya jurnalistik redaksi. Kami menerima sanggahan dan hak jawab dari pihak yang berkepentingan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.








