Beranda Daerah Krisis Air Bersih: Pasokan PDAM Kota Pontianak Keruh dan Asin Tak Layak...

Krisis Air Bersih: Pasokan PDAM Kota Pontianak Keruh dan Asin Tak Layak Digunakan Warga, Pemkot di Pertanyakan ?

19
0

PONTIANAK | Expose ~ Gelombang kekecewaan dan keresahan mendalam saat ini tengah melanda masyarakat Kota Pontianak akibat memburuknya kualitas pasokan air bersih yang didistribusikan oleh PDAM Tirta Khatulistiwa. Selama empat hari terakhir, ribuan rumah tangga di berbagai penjuru kota harus berhadapan dengan kenyataan pahit ketika membuka keran air di rumah mereka. Bukannya menerima kucuran air jernih yang layak pakai, warga justru disuguhkan air dengan warna cokelat pekat yang sangat keruh layaknya air lumpur, lengkap dengan aroma menyengat yang mengindikasikan tingginya endapan kotoran di dalam saluran pipa distribusi.

Kondisi pasokan air yang kian memprihatinkan ini tidak berhenti pada masalah kekeruhan fisik semata, melainkan juga menyentuh rasa dari air itu sendiri yang berubah menjadi sangat asin. Fenomena intrusi air laut yang kerap mengancam Sungai Kapuas saat musim kemarau diduga kuat kembali menjadi pemicu utama melonjaknya kadar garam pada sumber air baku. Campuran antara pekatnya endapan lumpur dan tingginya rasa asin tersebut praktis membuat air PDAM sama sekali tidak dapat digunakan untuk kebutuhan mendasar harian, baik untuk dimasak, diminum, maupun untuk sekadar mencuci pakaian dan mandi.

Dampak dari krisis air bersih ini melumpuhkan berbagai aktivitas domestik warga dan memicu pembengkakan biaya hidup harian yang tak terduga. Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan sanitasi dasar, warga terpaksa merogoh kocek lebih dalam guna membeli air galon isi ulang atau memesan air tangki swasta yang harganya mulai melambung tinggi seiring melonjaknya permintaan. Banyak keluarga mengaku kewalahan karena harus membagi anggaran rumah tangga yang makin terbatas hanya demi mendapatkan air bersih, sementara tagihan bulanan PDAM tetap berjalan tanpa ada kompensasi atas penurunan kualitas layanan yang begitu drastis.

Masyarakat kini mendesak pemerintah daerah beserta jajaran manajemen PDAM Tirta Khatulistiwa untuk segera turun tangan melakukan langkah penanganan darurat yang konkret dan terukur. Warga menuntut transparansi informasi mengenai pengerjaan teknis, pembersihan jaringan pipa, serta distribusi bantuan air bersih gratis ke pemukiman terdampak selama masa krisis berlangsung. Jika penanganan terkesan lambat dan pembiaran ini terus berlarut-larut, ketimpangan akses terhadap air bersih ini dikhawatirkan tidak hanya merusak taraf kesehatan publik masyarakat Pontianak, tetapi juga memicu krisis kepercayaan yang lebih luas terhadap kapasitas pelayanan publik di daerah tersebut.

(Tim/Red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini