Sukabumi, Expose.web.id – Masyarakat sering kali merasa tidak merasakan manfaat dari adanya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang diklaim sukses, itu mungkin terjadi karena adanya kesenjangan antara keberhasilan finansial di atas kertas dengan dampak nyata yang dirasakan sehari-hari.
Berikut adalah beberapa alasan utama mengapa kontradiksi ini bisa terjadi di lapangan:
- Keuntungan Tidak Mengalir Langsung ke Masyarakat
BUMDes yang sukses secara finansial biasanya menyetorkan laba bersihnya ke Pendapatan Asli Desa (PADes). Namun, manfaat ini menjadi tidak terasa jika:
Alokasi yang tidak menyentuh publik:
Uang PADes tersebut lebih banyak digunakan untuk biaya operasional kantor desa atau pembangunan fisik yang tidak mendesak, bukan untuk program pemberdayaan atau bantuan sosial masyarakat yang langsung menyantuh warga.
Kurangnya transparansi:
Masyarakat tidak tahu berapa keuntungan BUMDes dan digunakan untuk apa saja uang tersebut karena laporan keuangan tidak dipublikasikan secara terbuka dan terkesan tertutup.
- Efek Domino Ekonomi yang Minim (Low Economic Multiplier Effect)
Sebuah BUMDes bisa saja mencetak untung besar, tetapi model bisnisnya bersifat tertutup.
Minim penyerapan tenaga kerja:
Bisnis BUMDes mungkin hanya dikelola oleh segelintir pengurus inti, sehingga tidak membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.
Tidak bermitra dengan warga:
BUMDes tidak membeli bahan baku dari petani atau pengrajin lokal, melainkan mengambil dari pihak luar. Akibatnya, perputaran uang tidak terjadi di dalam desa, padahal jenis usahanya bisa berkolaborasi dengan warga sekitar.
- Justru Menjadi Pesaing Usaha Milik Warga
Ini adalah kesalahan fatal yang sering terjadi. BUMDes yang sukses terkadang membuka lini bisnis yang sama persis dengan apa yang sudah dirintis oleh warga (misalnya toko kelontong atau grosir ATK). Karena modal BUMDes lebih besar, usaha kecil milik warga justru gulung tikar. Keberhasilan BUMDes dalam kasus ini dibangun di atas kegagalan usaha masyarakat desa. - Fokus pada Keuntungan, Bukan Pelayanan Publik (Social Function)
BUMDes memiliki dua fungsi:
fungsi komersial (mencari untung) dan fungsi sosial (melayani warga). BUMDes yang sukses sering kali terlalu fokus pada fungsi komersial. Mereka mengabaikan penyediaan layanan dasar yang dibutuhkan warga, seperti kemudahan akses pupuk murah atau yang lainnya.
- Komunikasi dan Sosialisasi yang Lemah
Banyak warga desa yang tidak paham apa itu BUMDes, apa saja usahanya, dan apa hak mereka sebagai warga. Akibatnya, meskipun BUMDes telah memberikan kontribusi (misalnya menyumbang dan membiayai renovasi tempat ibadah atau sekolah madrasah dan yang lainnya), masyarakat tidak tahu dan tidak mengaitkan fasilitas tersebut sebagai hasil dari kesuksesan BUMDes, akibat dari kurangnya memberi pemahaman kepada warga.
Sumber: Dari Berbagai sumber
Editor: Rinto Wahyudi







