Beranda Hukum Skandal Transit Perbatasan: Bagaimana Mafia TPPO Menguasai Simpul Transportasi Kalimantan Barat

Skandal Transit Perbatasan: Bagaimana Mafia TPPO Menguasai Simpul Transportasi Kalimantan Barat

85
0

KALIMANTAN BARAT, Expose – Di balik bentangan megah Pos Cross-Border Entikong yang berdiri tegak sebagai panggung kedaulatan negara, tersimpan sebuah realitas kelam yang mencoreng wajah perbatasan. Mengalihkan pandangan ratusan kilometer ke belakang, mulai dari garbarata Bandara Internasional Supadio hingga deru mesin kapal di Pelabuhan Pelni Dwikora Pontianak, sebuah komoditas paling dingin terus diperdagangkan tanpa henti. Di lokasi-lokasi ini, nilai-nilai kemanusiaan dengan mudahnya ditukar dengan lembaran rupiah demi keuntungan segelintir oknum.

Secara kasatmata, perbatasan Entikong tampak seperti etalase resmi kedaulatan nasional, sementara Supadio dan Pelni Dwikora berfungsi sebagai gerbang utama penerimaan tamu negara. Namun di balik kemegahan fasilitas publik tersebut, teater perlintasan Tenaga Kerja Indonesia non-prosedural justru dimainkan secara terstruktur, rapi, dan vulgar. Jalur penyelundupan ini kini telah mengalami pergeseran fungsi yang sangat memprihatinkan, dari yang semula sekadar menampung warga lokal yang terdesak kebutuhan ekonomi, menjadi sebuah pusat transit lintas provinsi yang dianggap paling aman.

Persoalan perdagangan manusia di Kalimantan Barat bukan lagi merupakan kasus lokal berskala kecil, melainkan bentuk kejahatan terorganisir bertingkat yang beroperasi bagai jaringan industri haram. Praktik ini secara konsisten memasok calon pekerja ilegal dari berbagai penjuru Nusantara, termasuk Pulau Jawa, Nusa Tenggara, hingga wilayah Indonesia Timur. Seluruh calon pekerja tersebut kemudian disalurkan dan didistribusikan secara sistematis melalui simpul-simpul transportasi utama yang ada di wilayah Kalimantan Barat.

Melalui jalur udara, ribuan calon pekerja non-prosedural diterbangkan dan mendarat di Bandara Supadio dengan mengenakan penyamaran sebagai wisatawan atau warga yang sedang melakukan kunjungan keluarga. Di area kedatangan, para calo dan penjemput telah bersiap memindahkan warga luar daerah ini ke armada travel gelap tanpa adanya filtrasi ketat dari otoritas terkait. Sementara itu, ratusan jiwa lainnya diangkut melalui jalur laut menggunakan kapal Pelni menuju Pelabuhan Pontianak yang kini menjelma menjadi titik kumpul masif, sebelum akhirnya mereka didistribusikan menggunakan bus dan minibus menuju perbatasan tanpa hambatan berarti.

(Tim/Red)

⚠️ Pernyataan
Seluruh tulisan yang dimuat di Expose.web.id merupakan hasil karya jurnalistik redaksi. Kami menerima sanggahan dan hak jawab dari pihak yang berkepentingan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini