Beranda Daerah Yang Dikritik Presiden yang Marah, Gubernur Kalbar Ria Norsan

Yang Dikritik Presiden yang Marah, Gubernur Kalbar Ria Norsan

74
0

PONTIANAK | Expose ~ Gelombang protes mahasiswa meletus di Halaman Bandara Supadio Kubu raya pada Kamis (03/09/2026), ketika barisan aktivis kampus turun ke jalan untuk menyuarakan kemarahan rakyat atas bencana kebakaran hutan dan lahan yang kembali mengepulkan kabut asap pekat. Di tengah cuaca yang semakin memburuk akibat amukan si jago merah, para mahasiswa memandang bahwa penanganan bencana lingkungan ini terkesan lambat dan serempak mengkritik keras respons Presiden yang terkesan sekadar meluapkan kemarahan tanpa dibarengi instruksi yang membawa solusi konkret. Amarah dari pucuk kepemimpinan nasional dinilai tidak akan pernah mampu memadamkan api yang nyata membakar mata pencaharian dan kesehatan masyarakat di lapangan, sehingga aksi ini datang menuntut kejelasan tindakan, bukan sekadar retorika panggung politik semata.

Dalam aksi yang berlangsung memanas tersebut, Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan menjadi sasaran utama desakan mahasiswa yang menuntut akuntabilitas serta keberanian penuh Pemprov Kalbar dalam mengeksekusi langkah-langkah pencegahan serta penanggulangan karhutla secara drastis. Para orator menggarisbawahi bahwa wilayah Kalimantan Barat membutuhkan pengerjaan cepat penegakan hukum terhadap oknum pembakar lahan, pengerahan sarana pemadam yang mumpuni, serta mitigasi darurat bagi warga yang terdampak kabut asap. Ria Norsan didesak untuk tidak berlindung di balik dinamika politik pusat dan segera menunjukkan taring kepemimpinannya demi membebaskan masyarakat lokal dari ancaman racun asap yang rutin berulang setiap tahun.

Aksi mimbar bebas ini sekaligus menjadi panggung bagi para mahasiswa untuk menelanjangi kegagalan kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam menetapkan strategi pencegahan kebakaran hutan yang menyeluruh dan berkelanjutan. Para demonstran menilai bahwa polemik saling tumpuk tanggung jawab dan kemarahan elite politik hanya mencerminkan ketidaksiapan negara dalam mengatasi akar permasalahan ekologis yang saban tahun merusak ekosistem serta mengisolasi wilayah Kalbar. Mahasiswa menegaskan bahwa jika koordinasi antarjenjang pemerintah ini terus berputar pada lingkar kritik tanpa aksi nyata, maka masyarakat bawah yang akan selalu dikorbankan demi menanggung konsekuensi kesehatan dan kerugian ekonomi yang masif.

Menutup penyampaian aspirasinya pada sore hari itu, massa mahasiswa secara resmi memberikan tenggat waktu tegas kepada Gubernur Ria Norsan untuk segera mengambil tindakan konkret di lapangan, seraya berjanji akan menggalang massa yang jauh lebih besar jika pemadam karhutla masih sebatas wacana. Mereka menegaskan bahwa pengawasan dari gerakan mahasiswa tidak akan mengendur sedikit pun hingga langit Kalimantan Barat kembali bersih dari ancaman asap. Aksi yang berjalan riuh namun tetap terkendali ini menjadi alarm keras bagi jajaran pemerintah daerah maupun pusat bahwa kesabaran publik terhadap pembiaran krisis lingkungan hidup telah mencapai puncaknya.

(Tim/Red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini