PONTIANAK | Expose ~ Kombinasi fenomena kemarau ekstrem dan maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini mencekik kehidupan warga Kota Pontianak. Penurunan debit air tawar di sepanjang Sungai Kapuas menyebabkan fenomena intrusi air laut yang parah. Dampaknya, pasokan air minum yang disalurkan oleh PDAM berubah menjadi terasa asin dan payau, sementara cadangan air tanah di sumur-sumur bor pemukiman warga mulai mengering total. Pada saat yang sama, langit kota diselimuti kabut asap pekat berbahaya yang jarak pandangnya kian terbatas dan meningkatkan potensi infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) bagi masyarakat.
Ancaman ganda dari lingkungan ini memaksa pola hidup masyarakat bergeser secara signifikan demi bertahan hidup di tengah krisis. Air PDAM yang mengalir asin dan terasa kelat tak lagi aman dipakai untuk kebutuhan mendasar seperti dikonsumsi, mencuci bahan makanan, atau sekadar menyikat gigi. Keterbatasan ini membuat warga bergantung penuh pada pembelian air galon demi menjamin kebutuhan higiene serta sanitasi harian. Depo-depo air minum isi ulang yang tersebar di sudut kota pun mendadak diserbu antrean panjang warga yang berbondong-bondong membawa puluhan galon kosong sejak pagi hari.
Tekanan ekonomi akibat meningkatnya pengeluaran harian ini dirasakan langsung oleh Vina (52), seorang warga yang bermukim di Komplek Batara, kawasan Sungai Jawi. Ia mengungkapkan rasa pasrahnya ketika harus mengalokasikan anggaran ekstra tiap minggu hanya demi membeli pasokan air galon isi ulang. Kondisi ini kian memprihatinkan karena selain beban keuangan yang membengkak akibat ketergantungan pada air kemasan, ancaman terpapar kabut asap pekat saat beraktivitas dan mengantre di luar rumah menambah beban fisik serta psikologis keluarga yang diampunya.
Situasi darurat pasokan air dan polusi udara di Pontianak ini membutuhkan langkah taktis serta solusi jangka panjang dari otoritas terkait. Harapan besar disandarkan agar penanganan karhutla dapat dimaksimalkan dan keandalan rekayasa pengolahan air bersih dapat segera memulihkan kualitas air minum warga. Selagi menantikan keajaiban turunnya hujan deras yang mampu memudarkan asap dan menetralkan kadar garam sungai, warga Sungai Jawi dan seluruh masyarakat Pontianak hanya bisa bertahan dengan sisa daya yang ada demi memenuhi kebutuhan air bersih keluarga.
(Tim/Red)







