KALIMANTAN BARAT | Expose ~ Di tengah semarak hiasan Merah Putih di bulan kemerdekaan, suasana Bandara Internasional Supadio di Pontianak, Kalimantan Barat, justru diselimuti ketegangan. Sebuah jepretan kamera dari area check-in menangkap realita yang kontras: antrean panjang calon penumpang yang tampak resah, diapit oleh tumpukan bagasi yang tak bergerak. Gambar tersebut menjadi potret bisu sebuah krisis operasional yang dipicu oleh musuh yang tak kasat mata, namun dampaknya terasa nyata di setiap penjuru terminal.
Krisis ini bersumber dari luar dinding bandara: kabut asap pekat yang menyelimuti wilayah Kalimantan Barat akibat maraknya kebakaran hutan dan lahan. Fenomena tahunan yang menyedihkan ini telah mencapai puncaknya, menciptakan kabut tebal yang melumpuhkan jarak pandang. Pilot diwajibkan bekerja ekstra hati-hati, bahkan seringkali tidak mampu melihat landasan pacu dengan jelas. Hasilnya, operasional penerbangan harus terhenti demi keselamatan, membuat jadwal yang ketat menjadi berantakan.
Dampak visual dari kabut asap ini tidak hanya terlihat dari keruhnya udara di landasan pacu, tetapi juga dari angka-angka yang mengerikan: 21 penerbangan mengalami delay total dalam kurun waktu hanya 4 hari terakhir. Hari ini, 6 penerbangan terjadwal harus tertunda tanpa kepastian kapan bisa diberangkatkan. Setiap penundaan bukan sekadar angka di papan pengumuman; bagi penumpang, itu berarti pertemuan bisnis yang terlewatkan, momen liburan yang hancur, atau perpisahan keluarga yang tertunda. Bagi bandara, itu berarti tumpukan masalah logistik dan keluhan yang menumpuk.
Kondisi di Bandara Supadio saat ini adalah sebuah peringatan darurat bagi kita semua tentang rapuhnya infrastruktur dan aktivitas manusia di hadapan kerusakan lingkungan. Kabut asap ini bukan sekadar gangguan kecil, melainkan konsekuensi nyata dari eksploitasi lahan yang tidak terkendali. Solusi jangka panjang tidak bisa lagi ditunda; pengawasan ketat dan sanksi tegas terhadap pelaku pembakaran lahan menjadi kunci untuk mencegah krisis ini terulang. Jika tidak, “penyumbatan” di Bandara Supadio akan terus menjadi tontonan kelam di tengah perayaan kemerdekaan. (Red)







