Beranda Nasional Mengingat Sejarah, Mengenang Sosok Sekaligus Ulama Besar di Banten, Muhammad Dimyathi

Mengingat Sejarah, Mengenang Sosok Sekaligus Ulama Besar di Banten, Muhammad Dimyathi

64
0

Sukabumi, Expose.web.id – Setelah menjalani mondok di Sempur beberapa bulan, Abuya pulang ke Cidahu untuk menengok istri dan orang tuanya di Banten, tenyata Nama Muchammad Dimyathi, telah dikenal oleh KH. Tubagus Ahmad Khatib. Beliau lalu menyelidiki siapa sebenarnya Muhammad Dimyathi itu, setelah diketahui bahwa Muchammad Dimyathi adalah putra KH. Indra (H.M. Amin) yang pernah mengasuhnya disuatu pesantren, akhirnya mantaplah niat Residen Banten tersebut untuk menemui dikediamannya di Cidahu.

Sebelum mendatangi Abuya di Cidahu, KH. Tubagus Ahmad Khatib mohon Fatwa dan petunjuk kepada Mama Sempur berkaitan dengan niatnya untuk menyerahkan mandat kepada Muhammad Dimyathi. Jawab Mama Sempur “Kalau itu orangnya (Muhammad Dimyathi), tentu sangat sesuai jika diserahi mandat”.

Maka, pada tahun 1951 M, KH. Tubagus Achmad Khatib sebagai Residen Banten mendatangi Muchammad Dimyathi di Cidahu.Disampaikanlah niat untuk menyerahkan mandat keresidenannya pada Muchammad Dimyathi, dalam pertemuannya KH. Tubagus Achmad Khatib mengatakan bahwa,

“Saya mengharapkan Pak kiyai (Muhammad Dimyathi) bersedia tinggal di Banten dan mengurus Makam Sulthan Hasanudin dan berdomisli di Banten lama),”

“Jika mau memegang Banten, maka saya merencanakan membangun Pondok Pesantren di Banten sebagai Pusat Study Islam di Indo-nesia sebagaimana Al-Azhar di Negeri Mesir”,

kemudian untuk keperluan lain termasuk menghidupi keluarga, K.H.Tubagus Achmad Khotib akan menyiapkan sebidang sawah kesulthanan seluas + 60 AU dan sebuah mobil jeep untuk ber-da’wah. Namun, permintaan itu ditolak oleh Muhammad Dimyathi.

Sebagai santri yang dlo’if, ditambah pula dengan pengetahuannya yang sarat dengan ajaran Tashawwuf, Muchammad Dimyathi tidak tergugah sedikit-pun dengan tawaran sebagai Residen, meskipun tersirat dihatinya rasa bangga di-kunjungi oleh seorang Residen. Meskipun demikian, dengan Akhlak yang sangat terpuji, Abuya tetap menghargai dan menghormati sang Residen, dan sangat men-gagumi cita-cita mulia Residen Banten tersebut.

Dengan berat hati serta rasa dlo’if dan tawadlu, maka Abuya menjawab, “Saya tidak pantas untuk memegang Tahta Kesulthanan, karena saya tidak memiliki Ilmu yang diharapkan oleh Pak Kiyai (Residen), Jika saya me-miliki Ilmu di sisi Allah sesuai dengan yang dikatakan oleh pak Kiyai (KH. Ть. Ahmad Khatib), maka saya ini tidak ubahnya ibarat sebuah lentera dihutan belantara ditengah gelapnya malam, suatu saat pasti akan terlihat oleh orang”.

Maksud jawaban tersebut adalah bahwa Abuya tidak mau diorbitkan se-bagaimana yang diharapkan oleh Residen Banten, meskipun demikian Abuya sa-ngat mengagumi Residen Banten mempunyai cita-cita untuk menegakkan Sya-ri’at Islam di Banten, secara tidak langsung Residen Banten ingin mempertahankan keberadaan Banten, karena Banten telah dikenal sebelumnya oleh Dunia internasional, dengan adanya Kapal-kapal perniagaan yang datang dari Melayu, India, Persia, Inggris, Spanyol, Portugis, Arab dan China.

K.H.Tubagus Ahmad Khatib selanjutnya berangkat ke Sempur untuk menyampaikan jawaban Muhammad Dimyathi, lalu Mama Sempur menyatakan, Muhammad Dimyathi kelak menjadi kyai Mukhlish, sejak datang ke sini meskipun masih muda sekali keikhlasannya sudah nampak”, bahkan Mama Sem-selama mondok tidak pernah membawa bekal dan tidak pernah dikirimi uang, k. pur sempat menceritakan kepada Residen Banten, bahwa Muhammad Dimyathi ecuali sekali pernah didatangi oleh KH. Damanhuri (Kakak Ipar). Dia tidak pernah makan juga tidak pernah tidur, sebaliknya setiap dipanggil dia dalam keadaan segar dan selalu sedang berwirid.

Sumber : Manaqib Abuya Cidahu hal 79-81

Editor: Rinto w

⚠️ Pernyataan
Seluruh tulisan yang dimuat di Expose.web.id merupakan hasil karya jurnalistik redaksi. Kami menerima sanggahan dan hak jawab dari pihak yang berkepentingan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini