Sukabumi, Expose.web.id – Prestasi yang mencengangkan sekaligus menyayat hati datang dari panggung diplomasi internasional di Jenewa, Swiss. Di saat nama Indonesia harum di markas besar PBB (United Nations Office at Geneva), terdengar jeritan kekecewaan yang mendalam dari salah satu putra terbaik bangsa asal Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, informasi hari Rabu, tanggal (03/06/2026).
Ujang Supriatin, atau yang akrab disapa oleh masyarakat dengan panggilan Abah Ujang GuruAbah Ujang, secara mengejutkan berhasil menembus barikade ketat diplomasi global dan resmi menjadi delegasi Republik Indonesia dalam sidang International Labour Conference (ILC) Session ke-114 yang diselenggarakan oleh International Labour Organization (ILO) di bawah naungan PBB.
Acara ini dihadiri oleh 187 negara di dunia dan menjadi kiblat tertinggi perumusan kebijakan nasib buruh sejagat raya. Namun, di balik kegemilangan prestasi yang sangat sulit dicapai tersebut, tersimpan sebuah ironi pahit: Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat hingga saat ini dinilai sama sekali belum memberikan perhatian maupun apresiasi nyata.
Memasuki hari kedua pelaksanaan ILC ke-114 pada tanggal 2 Juni 2026, suasana di dalam gedung bersejarah Palais des Nations, yang dibangun sejak tahun 1929, berlangsung sangat tegang. Ribuan delegasi dari unsur pemerintah, pengusaha, dan pekerja (format tripartit) dari seluruh penjuru bumi berkumpul.
Di tengah hiruk-pikuk pusat diplomasi multilateral Eropa tersebut, tampak sosok Abah Ujang Guru berdiri tegak.
Selaku Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Maritim Indonesia (FSP MARITIM – KSPSI) di bawah payung Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) pimpinan Jumhur Hidayat, ia membawa beban berat di pundaknya. KSPSI sendiri merupakan organisasi yang berafiliasi langsung dengan International Labour Confederation (ILC) yang berpusat di Turki.
Pada agenda hari kedua yang sangat padat, Ujang Supriatin secara khusus mengambil peran vital dalam Standard Setting Committee (CNP). Ini adalah forum tingkat tinggi yang sangat krusial karena sedang menggodok aturan dan penyusunan standar internasional mengenai pekerjaan layak dalam ekonomi platform (platform economy).
“Saat ini model kerja berbasis aplikasi digital dan ojek online sedang menjamur di seluruh dunia, termasuk di pelosok Sukabumi dan Jawa Barat. Jika kita tidak ikut merumuskan standarnya di sini, pekerja kita di daerah akan terus dieksploitasi oleh sistem digital,” tegas pihak delegasi.
Selain komite ekonomi platform, delegasi Indonesia juga membagi kekuatan di beberapa komite utama lainnya, seperti:
Committee on the Application of Standards (CAN): Mengevaluasi kepatuhan negara-negara anggota terhadap standar ketenagakerjaan internasional.
Recurrent Discussion Committee (CD-R): Membahas penguatan dialog sosial, tripartisme, serta kebebasan berserikat demi hubungan industrial yang harmonis.
General Discussion Committee (CDG): Menggelar pembahasan mengenai kemajuan transformatif untuk kesetaraan gender di dunia kerja agar tidak ada lagi diskriminasi.
Semua rapat penting ini tersebar di titik-titik vital kota Jenewa, mulai dari markas besar ILO (Bureau International du Travail – BIT) hingga Geneva International Conference Centre (CICG).
Sangat disayangkan, ketika seorang putra daerah asal Palabuhanratu berkiprah di kancah internasional demi memperjuangkan hak, kepentingan, dan kesejahteraan pekerja/buruh dunia, yang dampaknya akan dirasakan langsung oleh masyarakat bawah di daerah, respons dari pemerintah lokal justru memprihatinkan.
Padahal, misi yang dibawa Abah Ujang Guru dari Jenewa ini sangat mahal harganya bagi masa depan Kabupaten Sukabumi. Sukabumi yang kaya akan potensi maritim dan industri sangat membutuhkan sinkronisasi aturan hukum ketenagakerjaan internasional agar warganya bisa mendapatkan pekerjaan yang layak, upah yang adil, dan kesejahteraan yang merata.
Meskipun harus menelan pil pahit karena kurangnya perhatian dari pemerintah daerahnya, semangat Abah Ujang Guru tidak surut sedikit pun. Baginya, kepentingan kaum buruh dan masyarakat Kabupaten Sukabumi jauh lebih penting daripada sekadar seremoni penghargaan.Konferensi ILC ke-114 ini sendiri dijadwalkan berlangsung dari tanggal 1 hingga 14 Juni 2026.
Masih ada waktu panjang bagi delegasi Indonesia untuk terus menyuarakan hak-hak pekerja.“Melalui forum ILC ke-114 ini, kita dapat mengikuti secara langsung bagaimana arah kebijakan ketenagakerjaan dunia bergerak, terutama terkait pekerjaan layak, dialog sosial, kebebasan berserikat, dan kesetaraan gender”
“Hasil-hasil pembahasan dari Jenewa ini dipastikan akan menjadi referensi emas dan senjata utama kita dalam memperkuat perlindungan hukum serta mendongkrak kesejahteraan pekerja di Indonesia,”pungkasnya.
Kini, publik dan masyarakat Sukabumi menanti, akankah setelah kepulangan Abah Ujang Guru dari Swiss membawa hasil gemilang, Pemda Kabupaten Sukabumi dan Pemprov Jabar akhirnya membuka mata dan memberikan apresiasi yang layak bagi sang pahlawan diplomasi buruh ini.
Ataukah prestasi internasional ini akan kembali menguap begitu saja di bawah meja birokrasi daerah.Hingga berita ini diturunkan, belum ada bentuk apresiasi resmi, dukungan moral, maupun perhatian nyata dari Pemda Kabupaten Sukabumi maupun Pemprov Jawa Barat. Fenomena ini memicu kritik tajam. Bagaimana mungkin seorang tokoh lokal yang berhasil membawa nama harum daerah di tingkat PBB terkesan dibiarkan berjuang sendiri tanpa dukungan dari rumahnya sendiri.
Sumber: Dari Berbagai Sumber
( Rinto Wahyudi)
Seluruh tulisan yang dimuat di Expose.web.id merupakan hasil karya jurnalistik redaksi. Kami menerima sanggahan dan hak jawab dari pihak yang berkepentingan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.








