Oku Selatan,Expose — Kepergian dr Myta Aprilia Azmy menyisakan duka mendalam sekaligus menuai sorotan serius terhadap sistem kerja dokter internship. Dokter muda yang dikenal hangat dan berdedikasi itu meninggal dunia setelah sebelumnya dirawat kritis di ICU RSUP Dr. Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang.
Di balik kabar duka tersebut, tersimpan sosok dr Myta sebagai tenaga medis yang mencintai profesinya. Ia merupakan dokter umum yang tengah menjalani masa internship dengan semangat tinggi dalam memberikan pelayanan terbaik bagi pasien.
Dalam catatan pribadinya di LinkedIn, dr Myta menegaskan komitmennya terhadap dunia medis.
“Saya benar-benar menikmati pekerjaan saya dan berkomitmen memberikan yang terbaik di setiap situasi klinis,” tulisnya.
Ia juga dikenal menjunjung tinggi nilai empati dan keselamatan pasien dalam setiap praktiknya. Bagi dr Myta, keluarga menjadi sumber kekuatan utama. Ia kerap menyebut orang tua dan adiknya sebagai motivasi terbesar dalam menjalani profesi sebagai dokter.
Tak hanya profesional, dr Myta juga dikenal sebagai pribadi sederhana dan hangat. Di tengah kesibukannya, ia tetap meluangkan waktu untuk hal-hal kecil yang ia sukai, seperti merawat kucing peliharaan dan bermain gim.
Namun, kepergian dr Myta kini memunculkan pertanyaan besar. Kabar meninggalnya yang beredar luas sejak Jumat (01/05/2026) di media sosial memicu reaksi publik dan desakan agar kasus yang menimpanya diusut tuntas.
Sorotan itu diperkuat oleh langkah Pengurus Besar Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (IKA FK Unsri) yang lebih dulu melayangkan surat resmi ke Kementerian Kesehatan RI.
Dalam surat tertanggal 30 April 2026, IKA FK Unsri mengungkap temuan yang dinilai mengkhawatirkan terkait kondisi kerja dokter internship di RSUD K.H. Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi lokasi penugasan dr Myta.
“Kami menemukan berbagai rangkaian fakta yang sangat mengkhawatirkan dan berpotensi membahayakan keselamatan dokter internship,” tulis IKA FK Unsri.
Mereka menyebut dr Myta diduga mengalami beban kerja berat tanpa istirahat memadai. Bahkan, meski kondisi kesehatannya menurun sejak Maret 2026, ia tetap dijadwalkan menjalani jaga malam.
“dr Myta telah melaporkan gejala sakit, namun tetap dijadwalkan jaga malam dalam kondisi sesak napas dan demam tinggi,” demikian isi surat tersebut.
Kondisinya terus memburuk hingga saturasi oksigen dilaporkan berada di bawah 80 persen, sebelum akhirnya dirujuk ke RSMH Palembang untuk penanganan intensif.
IKA FK Unsri juga menyoroti sejumlah persoalan lain, mulai dari dugaan minimnya supervisi dokter pembimbing, keterbatasan fasilitas termasuk kekosongan obat, hingga adanya indikasi tekanan untuk menutup informasi.
“Adanya arahan untuk merahasiakan kondisi ini serta narasi yang menyudutkan dokter internship menjadi perhatian serius kami,” tegas mereka.
Atas dasar itu, IKA FK Unsri mendesak Kementerian Kesehatan segera melakukan audit menyeluruh terhadap RSUD K.H. Daud Arif sebagai wahana internship.
“Kami mendesak Kemenkes RI untuk segera melakukan audit menyeluruh,” tulisnya.
Hingga kini, pihak IKA FK Unsri memilih tidak memberikan komentar lebih lanjut dan menyerahkan penanganan sepenuhnya kepada Kemenkes RI. Sementara itu, belum ada keterangan resmi dari keluarga terkait kabar duka tersebut.
Berdasarkan informasi dari rekan sejawat, jenazah dr Myta rencananya akan dikebumikan hari ini, di pemakaman kampung rengas, Simpang pendagan, kelurahan pasar Muaradua, kecamatan Muaradua, kabupaten OKU Selatan.
Kepergian dr Myta tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga dan kolega, tetapi juga menjadi pengingat keras akan pentingnya perlindungan, pengawasan, dan sistem kerja yang manusiawi bagi dokter muda di masa internship.
. Editor: junaidi
Seluruh tulisan yang dimuat di Expose.web.id merupakan hasil karya jurnalistik redaksi. Kami menerima sanggahan dan hak jawab dari pihak yang berkepentingan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.








