Beranda Uncategorized MBG Berjalan, Sejumlah Pedagang Kantin Keluhkan Penurunan Omzet

MBG Berjalan, Sejumlah Pedagang Kantin Keluhkan Penurunan Omzet

17
0

Banyuasin,Expose – Sejumlah pedagang jajanan di kantin beberapa satuan pendidikan di Kecamatan Air Salek, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, mengeluhkan penurunan pendapatan sejak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai berjalan. Informasi tersebut diperoleh melalui penelusuran di lapangan pada Selasa (14/7/2026).

Berdasarkan hasil penelusuran di SD Negeri 8, SD Negeri 19, SD Negeri 20, dan SMP Negeri 1 yang berada di Desa Srikaton, program MBG telah didistribusikan kepada para siswa selama kurang lebih dua pekan terakhir. Sebelumnya, program tersebut sempat diuji coba selama sepekan menjelang libur kenaikan kelas Tahun Pelajaran 2025/2026 dan kembali dilanjutkan pada awal Tahun Pelajaran 2026/2027.

Risna, pedagang kantin di SD Negeri 19, mengaku omzet penjualannya menurun cukup drastis sejak program MBG dilaksanakan. Menurutnya, sebelum program tersebut berjalan, pendapatan hariannya dapat mencapai lebih dari Rp200 ribu. Kini, hasil penjualannya jauh berkurang.

Sementara itu, Kepala SD Negeri 19, Sri Mujiati, S.Pd., mengatakan hingga saat ini pihak sekolah tidak menerima keluhan dari orang tua siswa terkait pelaksanaan Program MBG. Ia juga menyebut sebagian besar siswa menyukai menu makanan yang disediakan.

“Kalau dari wali murid tidak ada keluhan. Kalau dari pedagang saya kurang tahu. Setahu kami anak-anak suka,” ujarnya.

Keterangan serupa juga disampaikan pihak SD Negeri 8. Kepala sekolah dan beberapa guru menyebut tugas sekolah hanya menerima dan menyalurkan makanan kepada peserta didik sesuai ketentuan program.

Di SMP Negeri 1, sejumlah siswa mengaku lebih memilih apabila nilai bantuan tersebut diberikan dalam bentuk uang tunai. Mereka beralasan beberapa menu yang diterima dinilai kurang sesuai dengan selera.

“Kalau buah busuk di sini tidak ada, tapi nasi kadang keras seperti kurang matang dan lauk kadang berbau amis,” ungkap salah seorang siswa.

Keluhan juga datang dari Beti, pedagang kantin SMP Negeri 1. Ia mengaku sebelum Program MBG berjalan, omzet kotor hariannya berkisar antara Rp400 ribu hingga Rp500 ribu. Namun kini pendapatannya turun menjadi sekitar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per hari.

“Dulu bisa sampai Rp400 ribu atau Rp500 ribu. Sekarang jauh berkurang, kadang hanya Rp150 ribu sampai Rp200 ribu. Kalau bisa dihentikan ya dihentikan,” katanya.

Meski demikian, Beti berharap apabila program tetap dilanjutkan, pembagian makanan dapat dilakukan pada waktu yang lebih siang sehingga siswa masih memiliki kesempatan membeli jajanan di kantin pada pagi hari.

“Kalau tetap berjalan, sebaiknya dibagikan agak siang supaya pagi anak-anak masih bisa jajan,” harapnya.

Hal senada disampaikan Maryati, pedagang kantin lainnya. Ia mengaku tidak meminta agar Program MBG dihentikan, namun berharap pemerintah juga memperhatikan keberlangsungan usaha para pedagang kecil yang terdampak.

“Namanya kami di sini hanya mencari nafkah. Harapan kami pemerintah juga memperhatikan nasib pedagang kantin,” tuturnya.

Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program nasional yang bertujuan meningkatkan asupan gizi peserta didik. Di sisi lain, sejumlah pedagang kantin berharap pelaksanaannya dapat disertai kebijakan yang mampu mengurangi dampak terhadap pendapatan usaha kecil di lingkungan sekolah.

Pewarta: Junaidi

⚠️ Pernyataan
Seluruh tulisan yang dimuat di Expose.web.id merupakan hasil karya jurnalistik redaksi. Kami menerima sanggahan dan hak jawab dari pihak yang berkepentingan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini