PONTIANAK | Expose ~ Langit Kota Pontianak kian menggelap tertutup kabut asap pekat yang menyelimuti seluruh sudut kota hingga mencapai level sangat berbahaya pada Kamis (03/09/2026). Asap tebal hasil pembakaran hutan dan lahan kini membuat jarak pandang memburuk secara drastis hingga tersisa hanya sekitar 50 meter, menciptakan suasana mencekam seolah bumi kehilangan cahayanya. Ketidakoptimalan pemerintah dalam mengatasi titik-titik api di kawasan hutan memicu kemarahan publik, mengingat dampak buruk asap kian melumpuhkan aktivitas dan mengubah udara kota menjadi racun yang mengancam keselamatan jiwa.
Kondisi lapangan menunjukkan situasi krisis yang mengkhawatirkan karena mayoritas warga mulai mengeluhkan gangguan pernapasan parah sejak dini hari. Wahyu (42), salah seorang warga Pontianak, mengungkapkan betapa mencekiknya udara yang harus mereka hirup di mana napas terasa sangat sesak dan suhu di dalam kota melonjak panas luar biasa. Pekatnya asap yang meraba batas penglihatan ini kian membatasi ruang gerak warga, memaksa anak-anak hingga lansia bertahan di dalam rumah di tengah kepungan racun udara yang kian mengancam.
Penderitaan masyarakat Pontianak semakin memuncak seiring meluasnya krisis air bersih yang melanda berbagai kawasan permukiman. Bencana kebakaran lahan yang mengeringkan sumber-sumber air membuat masyarakat harus berjuang ekstra keras mencari pasokan air bersih demi memenuhi kebutuhan dasar harian di tengah jarak pandang yang terbatas. Antrean warga yang mencari air bersih di sudut-sudut kota kini menjadi pemandangan pilu, mempertegas betapa buruknya dampak berantai dari bencana ekologis yang merenggut kenyamanan hidup masyarakat setempat.
Di tengah situasi yang kian kritis ini, lambatnya aksi nyata dan belum optimalnya penanganan pemadaman api di area hutan membuat warga merasa dibiarkan berjuang sendirian melawan bencana. Apabila langkah darurat skala besar tidak segera dikerahkan untuk memadamkan kebakaran hutan dan mendistribusikan bantuan air bersih, Kota Pontianak terancam jatuh ke dalam krisis kemanusiaan yang jauh lebih dalam. Masyarakat kini menagih komitmen tegas pemerintah untuk segera mengendalikan amukan jago merah sebelum korban jiwa akibat penyakit ISPA dan krisis air terus berjatuhan.
(Tim/Red)







